Kembali ke blog
Bisnis

Harga Sudah Murah Tapi Tetap Tidak Laku? Ini Penyebabnya

07 Jan 2026 6 menit
Harga Sudah Murah Tapi Tetap Tidak Laku? Ini Penyebabnya

Harga sudah murah tapi tetap tidak laku sering bikin penjual bingung dan frustrasi

Harga sudah murah tapi tetap tidak laku adalah kondisi yang sangat sering dialami penjual online maupun UMKM. Kita sudah menurunkan harga, bahkan kadang sampai mengorbankan margin, tapi pembeli tetap sepi. Rasanya tidak masuk akal, karena selama ini kita diajarkan bahwa harga murah itu kunci penjualan. Namun di lapangan, kenyataannya tidak sesederhana itu.

Di titik ini, banyak penjual mulai ragu dengan produknya sendiri. Ada yang berpikir produknya tidak bagus, ada juga yang menyalahkan pasar yang sedang lesu. Padahal, masalahnya sering kali bukan di harga, melainkan di faktor lain yang tidak terlihat secara langsung.


Apa yang dimaksud kondisi harga murah tapi produk tetap tidak laku?

Kondisi ini terjadi ketika harga produk Anda secara objektif sudah lebih rendah dibanding pesaing, namun tidak mampu menarik pembelian. Produk mungkin dilihat, bahkan disimpan di keranjang, tetapi tidak pernah benar-benar di-checkout. Ini menandakan bahwa harga bukan satu-satunya pertimbangan pembeli.

Pembeli online saat ini jauh lebih kritis. Mereka tidak hanya melihat angka, tetapi juga rasa aman, kejelasan manfaat, dan keyakinan bahwa produk tersebut benar-benar layak dibeli. Jika aspek-aspek ini tidak terpenuhi, harga murah justru bisa menjadi tanda bahaya bagi calon pembeli.


Mengapa harga murah tidak selalu membuat pembeli tertarik?

Salah satu alasan utamanya adalah persepsi nilai. Pembeli tidak membeli harga, mereka membeli nilai. Ketika harga terlalu murah tanpa penjelasan yang jelas, pembeli justru curiga. Mereka bertanya-tanya apakah kualitasnya buruk, apakah produknya asli, atau apakah penjualnya bisa dipercaya.

Selain itu, harga murah sering kali membuat produk terlihat biasa saja. Tidak ada pembeda yang kuat dibanding kompetitor. Akibatnya, produk tenggelam di antara ratusan produk serupa yang juga menawarkan harga rendah. Di kondisi seperti ini, pembeli cenderung menunda keputusan atau memilih penjual yang terlihat lebih meyakinkan.


Siapa saja penjual yang paling sering mengalami masalah ini?

Masalah ini paling sering dialami oleh penjual pemula dan UMKM yang baru masuk ke pasar online. Mereka biasanya fokus menurunkan harga agar cepat laku, tanpa memikirkan strategi lain. Penjual yang terlalu mengikuti perang harga juga rentan mengalami kondisi ini.

Selain itu, penjual yang belum punya brand atau reputasi kuat sering merasa harga murah adalah satu-satunya senjata. Padahal, tanpa kepercayaan dan positioning yang jelas, harga rendah tidak cukup untuk mendorong keputusan beli.


Di mana letak kesalahan paling umum saat menentukan harga produk?

Kesalahan paling umum adalah menetapkan harga tanpa memahami target pembeli. Banyak penjual hanya membandingkan harga pesaing, lalu ikut menurunkan harga tanpa tahu siapa yang sebenarnya mereka sasar. Akibatnya, harga tidak selaras dengan persepsi pasar yang dituju.

Kesalahan lain adalah tidak menyampaikan alasan di balik harga tersebut. Jika produk Anda lebih murah karena efisiensi produksi atau sistem yang lebih rapi, hal itu perlu dikomunikasikan. Tanpa penjelasan, pembeli hanya melihat angka, bukan ceritanya.


Kapan harga murah justru menjadi bumerang bagi penjualan?

Harga murah menjadi bumerang ketika tidak diimbangi dengan kepercayaan. Ini sering terjadi di awal bisnis, saat akun masih sepi ulasan dan belum banyak transaksi. Di fase ini, harga terlalu murah justru menimbulkan keraguan.

Selain itu, saat pasar sudah jenuh dengan diskon, harga murah kehilangan daya tariknya. Pembeli sudah terbiasa melihat potongan harga setiap hari, sehingga mereka mencari faktor lain seperti pelayanan, kecepatan respon, dan kejelasan informasi produk.


Mengapa kepercayaan lebih penting daripada harga dalam jualan online?

Dalam jualan online, pembeli tidak bisa menyentuh produk secara langsung. Mereka membeli berdasarkan rasa percaya. Kepercayaan ini dibangun dari foto yang jelas, deskripsi yang jujur, testimoni, dan konsistensi komunikasi penjual.

Jika kepercayaan belum terbentuk, harga murah tidak akan banyak membantu. Bahkan, pembeli lebih rela membayar sedikit lebih mahal kepada penjual yang mereka anggap aman. Inilah alasan mengapa banyak produk mahal tetap laku, sementara produk murah justru sepi.


Bagaimana cara melihat masalah selain harga yang menghambat penjualan?

Langkah pertama adalah melihat dari sudut pandang pembeli. Coba perhatikan tampilan produk Anda. Apakah foto cukup meyakinkan? Apakah deskripsi menjelaskan manfaat, bukan hanya spesifikasi? Apakah calon pembeli bisa langsung memahami apa yang mereka dapatkan?

Selain itu, perhatikan alur pembelian. Kadang masalahnya ada di respon yang lambat, proses order yang ribet, atau informasi yang kurang jelas. Hal-hal kecil ini sering luput, padahal sangat berpengaruh pada keputusan beli.


Bagaimana strategi komunikasi memengaruhi laku tidaknya produk?

Cara kita berbicara kepada calon pembeli sangat menentukan. Jika komunikasi terlalu kaku atau terkesan memaksa, pembeli bisa mundur. Sebaliknya, komunikasi yang ramah, jelas, dan membantu membuat pembeli merasa nyaman.

Produk dengan harga murah tetapi dikomunikasikan secara asal-asalan akan kalah dengan produk yang lebih mahal namun disampaikan dengan profesional. Bahasa yang digunakan, cara menjawab pertanyaan, dan kejelasan informasi menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan.


Mengapa perang harga sering merugikan penjual kecil?

Perang harga membuat margin semakin tipis. Di awal mungkin terasa ada penjualan, tetapi lama-kelamaan penjual kelelahan karena keuntungan tidak sebanding dengan usaha. Saat biaya tak terduga muncul, bisnis langsung goyah.

Selain itu, perang harga membuat bisnis sulit naik kelas. Produk hanya dikenal karena murah, bukan karena nilai. Ketika ada penjual lain yang lebih murah lagi, pembeli akan langsung berpindah tanpa ragu.


Bagaimana cara keluar dari masalah harga sudah murah tapi tetap tidak laku?

Solusinya adalah menggeser fokus dari harga ke nilai. Mulailah memperbaiki cara produk ditampilkan dan dijelaskan. Tunjukkan manfaat nyata yang dirasakan pembeli, bukan sekadar harga murah. Ceritakan siapa produk ini cocok untuk dan masalah apa yang bisa diselesaikan.

Selain itu, bangun kepercayaan secara konsisten. Tidak harus langsung sempurna, tetapi lakukan perbaikan kecil yang berkelanjutan. Ketika kepercayaan mulai tumbuh, harga tidak lagi menjadi satu-satunya penentu.


Kesimpulan: harga murah bukan jaminan produk akan laku

Harga sudah murah tapi tetap tidak laku adalah tanda bahwa bisnis membutuhkan evaluasi lebih dalam. Harga hanyalah salah satu bagian kecil dari keseluruhan proses penjualan. Tanpa kepercayaan, komunikasi yang tepat, dan nilai yang jelas, harga murah justru bisa menjadi penghambat.

Pelajaran pentingnya, jangan terburu-buru menyalahkan harga. Perbaiki sistem, cara berkomunikasi, dan pengalaman pembeli. Ketika nilai produk terasa jelas, pembeli akan datang meskipun harga tidak selalu paling murah.

Berlangganan Newsletter Kami

Dapatkan insight mengembangkan bisnis, update produk terbaru, dan penawaran eksklusif.

Insight Mingguan
Bukan spam

Dengan berlangganan, Anda menyetujui Syarat & Kebijakan Privasi kami.

Artikel terkait

Lihat semua